Selamat pagi!
Bagiku, waktu selalu pagi, dia antara potongan 24 jam, pagi adalah waktu yang benar-benar indah, di saat burung-burung berkicau, di saat ayam jantan berkokok merdu, di saat kaki-kaki mungil bersiap ke sekolah dan semua memulai aktivitasnya. Karena pagi adalah sumber kekuatan dan awal dari semua perubahan.
Dan aku?
Pagi ini aku masih saja termangu, memikirkan projek film yang tak kunjung selesai. Rasa tidak percaya diri bermunculan begitu saja. Tak bisa tersaring, mengalir tanpa beban. Sudah sebulan ini aku terikat oleh projek perlombaan film yang mana anggotanya dari orng-orang yng belum aku kenal. Sebut saja Andris Winandra, Dewi Kartika dan Fery Vebri. Masing-masing dari mereka memegang peranan sebagai sutradara, penulis naskah, dan editor.
Film yang mengusung tema investasi ini membuat kami berpikir tujung keliling, terlebih aku sebagai juru kamera yang belum banyak pengalaman dibandingkan dengan mereka. Tapi aku harus meyakinkan diri, keikutsertaanku dalam projek bukan berarti aku yang telah mahir, akan tetapi medan pembelajaranlah yang menjadi salah satu alasan terkuat mengapa aku masih bertahan di sini.
Setelah meeting pertama, kita putuskan untuk shooting di tanggal enam, persiapan demi persiapan telah selesai meski banyak percekcokan dan muatan ide dari masing-masing kepala. Diputuskan shooting jam 8 pagi di taman bambu, Jakarta Timur.
Jam setengah delapan pagi, aku ditemani ransel lusuh sudah berada di lokasi, tapi crew belum juga datang. Satu jam menunggu, akhirnya mereka datang. Sutradara yang membawa kru sempat tidak diperbolehkan masuk oleh petugas taman, tapi setelah beberapa prosedur, mereka diizinkan masuk dan bisa memulai shoot di sana.
Awal shoot, aku merasa hampa, merasa tak bisa apa-apa dan keberadaanku samasekali tak ada artinya. Aku hanya bermain bersama anak dari seorang talent dan cenderung menjaganya agar tak mengganggu proses shooting. Sedangkan kendali kameramen, sebagian besar dihandle oleh kru bawaan si sutradara dan aku hanya sebagian kecil saja, sangat minoritas dan mungkin hanya menggugurkan fungsi peranku sebagai kameramen.
Tak apalah, mungkin memang pengalaman mereka yang lebih dan aku yang berbanding terbalik, tapi tetqp saja perasaan tak enak meski berkali-kali berusaha menghibur diri. Mungkin tempayku bukan di sini.
Jam 12 siang
Tiba-tiba turun hujan, shooting pending, dan kita semua beristirahat sebentar. Kagetnya sang sutradara mengeluarkan aspirasinya dan bilang bahwa shoot kita hari itu adalah kurang bagus dan tidak sesuai dengan ekspektasinya dan dia yakin, jika projek ini diteruskan akan sia sia saja, daripada begitu, ia mengusulkan agar kita semua memikirkan lagi projek ini matang-matang dan keluar dari perlombaan ini.
Aku kaget bukan main. Tapi tetap saja, tak ada yang bisa dilakukan. Mau marah? Marah pada siapa? Mau kesal? Kesal dengan siapa?. Tak ada yg bisa disalahkan pada waktu itu. Waktu sudah berlalu dan deadline perlkmbaan sebentar lagi. Tapi dengan keyakinan sang penulis naskah, ia akan tetap melanjutkan projek ini, meski tanoa seorang sutradara, dan dari situlah barulah muncul rasa percaya diriku menjadi seorang kameramen tunggal, kameramen tanpa alat hebat, dan kameramen dengan alat seadanya. Sutradara dan kru bawaannya pulang meninggalkan lokasi karena memang dia punya projek lain yang samasekali tidak bisa diganggu gugat meski akupun tak tahu persis.
shootung tanpa sutradara, editor, dan lokasi bagus bukanlah hal yang mudah, tumpuan tanggung jawab yang berat..(continue)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar